Vidya dadati vinayam vinayad yati patratam, Patratvaddhanamapnoti dhanaddharmam tatah sukham. (Hitopadesa, 6)
Pengetahuan memberi kerendahan hati. Dari kerendahan hati orang memperoleh karakter. Dari karakter orang meraih kekayaan. Dari kekayaan tindakan baik mengikuti dan kemudian hadir kebahagiaan.
Memang, pendidikan selalu dipersepsikan dengan dunia kerja. Itu tidak bisa dipungkiri, dan akan selalu demikian. Namun, Hindu memiliki persepsi yang lebih mendalam terhadap hal itu. Sukses secara finansial sangat diharapkan setelah pendidikan, sebab kekayaan itulah yang menjadikan orang bisa lebih maksimal berbuat baik. Meskipun bisa sebaliknya, tetapi sepanjang kebahagiaan sebagai capaian tertinggi, berbuat baik adalah pilihan. Orang bisa lebih mudah berbuat baik ketika kaya. Dia bisa berdana, melakukan banyak kegiatan sosial, membangun peradaban, dan yang lainnya. Sementara orang yang tidak memiliki banyak harta lebih susah melakukannya. Ini juga bukan berarti orang miskin tidak boleh berbuat baik, hanya saja untuk mengekspresikannya sedikit terhambat.
Namun, bagaimana kekayaan itu bisa diraih? Teks upadesa di atas memberikan dua tingkatan yang menjadi goal dari pendidikan. Apa itu? Disiplin dan karakter. Dikatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan tujuannya untuk mengantarkan orang menjadi disiplin (bisa diterjemahkan sebagai kerendahan hati) dan berkarakter. Mengapa kedua hal ini penting? Karena dengan kedua ini kekayaan bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Tanpa disiplin dan karakter, kekayaan cenderung mengarah ke arah yang salah. Sehingga dengan demikian, pendidikan memiliki dua misi, pertama mendidik tendensi inherennya, dan melatih skillnya. Tendensi inheren itu mesti dididik untuk agar mekar kesadarannya, sementara skill untuk membuat dirinya cakap dalam bidang yang digelutinya. Skill ini digunakan untuk mencari pekerjaan dan memperoleh kekayaan.
Jadi menurut Hindu, sukses tidak hanya masalah mendapatkan pekerjaan, namun yang lebih penting adalah karakternya. Perkembangan kesadaran bisa dilihat dari karakternya. Dan, agar karakter itu bisa terdidik, sekolah atau kampus saja tidak cukup. Pendidikan juga bisa diperoleh dari lingkungannya. Inilah mengapa Hindu berbicara masalah satsang (bergaul dengan orang baik). Bergaul kepada orang yang tepat akan memudahkan orang memperoleh pengetahuan yang benar. Lingkungan di luar sekolah, baik sosial maupun alam, akan sangat mempengaruhi kesadarannya sehingga terbentuk sebuah format karakter yang kuat. Hindu yang bicara tentang Rta dan Dharma akan lebih bisa diselami. Hidup mengarahkan orang untuk tetap berada pada prinsip semesta ini.
Mengapa disiplin itu penting? Karena tabiat manusia masih membawa sifat hewaninya. Insting manusia dan hewan tetap sama. Guna melepaskan dari tabiat tersebut, manusia mesti dilatih. Latihan itu bisa sukses hanya ketika disiplin bisa ditegakkan. Dengan disiplin, kesadaran hewannya bisa menipis dan hadir kesadaran yang lebih tinggi. Kesadaran yang selaras dengan hukum semesta membuat orang itu menjadi seperti semesta itu sendiri. Inilah karakter yang diharapkan. Jika ini terbentuk, maka skill yang dimiliki mereka akan bisa digunakan untuk meraih kekayaan. Dan ketika kekayaan itu bisa diperoleh, mereka bisa langsung menggunakannya untuk kebaikan. Dan jika kebaikan demi kebaikan dikerjakannya, maka kebahagiaan pasti datang padanya. *
I Gede Suwantana
Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta
"penting" - Google Berita
March 11, 2020 at 11:57AM
https://ift.tt/2TVbU07
MUTIARA WEDA: Pendidikan Tidak Penting? - NusaBali
"penting" - Google Berita
https://ift.tt/2mMnZYW
Bagikan Berita Ini

0 Response to "MUTIARA WEDA: Pendidikan Tidak Penting? - NusaBali"
Post a Comment